Emas yang ada didalam tanah umumnya bercampur dengan banyaknya kotoran.Sedangkan Cinta adalah “emas” nya jiwa.Dalam kehidupan sehari-hari terkadang dia tak luput bercampur dengan beberapa noda.Dan kita sendirilah yang sering mencampur Cinta dengan berbagai emosi lain yang kemudian menyebabkan hilangnya cinta , atau paling tidak merusaknya.

Mulanya kita ingin membedakan antara rasa cinta dan beberapa emosi lain yang bercampur dengannya.Cinta kadang bercampur dengan rasa memiliki. Ketika seseorang berkata ,’Aku cinta barang ini,’ sebenarnya ia berbicara tentang kecendrungan nya memiliki barang tersebut. Padahal Cinta adalah satu hal , dan rasa kepemilikan adalah hal lain pula. Betapa celakanya jika cinta telah memasuki lingkaran kekuasaan dan kepemilikan.

Kadang orang memperlakukan orang yang dicintainya seperti sesuatu yang dimilikinya.Padahal manusia tidak pantas untuk dimiliki. Dan kebanyakan orang yang berinteraksi dengan cintadengan memandangnya dari sudut kepemilikan – kisah cinta mereka berakhir dengan hancur dan layu.

Manusia adalah makhluk bebas. Pemilik manusia satu-satunya adalah Allah. Ketika seseorang memahami realita tersebut dan kebenaran penghambaannya hanya untuk Allah, ia bebas dan mendapatkan kebebasan. Jika manusia hanyalah milik Allah, bagaimana orang yang mencintainya dapat memperlakukannya seperti miliknya sendiri? Begitulah rasa memiliki itu merusak cinta

Seseorang kadang bertindak semaunya terhadap sesuatu yang dimilikinya, bahkan kadang ia bertindak yang tidak disenangi oleh masyarakat sekitar dan orang lain.Memang seseorang bebas sama sekali. Akan tetapi kebebasan terhadap sesuatu ini hendaknya tidak merambah kepada orang lain. Karena manusia bukanlah suatu barang. Dan keluarnya seseorang dari suatu kebendaan banyak tidak diketahui oleh para pencinta.

Cinta juga kadang bercampur dengan keinginan. Padahal keinginan dan Cinta adalah dua hal yang berbeda. Keinginan akan berhenti manakala sudah mendapat kepuasan. Sedangkan Cinta , ketika menemukan kepuasan , akan semakin bertambah dan berakar ketanah untuk kemudian membuahkan hasilnya.

Kita sendiri kadang menyebutkan keinginan kita dengan Cinta. Kita berimajinasi di depan Cinta ketika kita menginginkan sesuatu. Mungkin karena hal tersebut adalah baru. Atau mungkin karena ia Tidak ada didepan kita atau karena mungkin senang dengan adanya perubahan. Semua itu bukanlah cinta dan tidak dapat dikategorikan sebagai Cinta.

Cinta juga kadang bercampur dengan Egoisme. Mungkin egoisme inilah noda yang sulit dibersihkan dari Cinta. Dan ia kadang mengambil bentuk mencengangkan dalam sebuah cinta.Ketika mencintai kita berusaha membentuk sang kekasih dengan bentuk kita, atau berusaha memaksanya menjadi bentuk lain dari diri kita sendiri. Usaha tersebut merupakan batu karang yang kadang membentur cinta dalam kisah kehidupan.

Masing-masing kita adalah sebuah eksistensi yang berdiri sendiri dan dunia yang berbeda dari yang lainnya . Benar , kita kadang mirip dalam bentuk penciptaan.Masing-masing kita memiliki dua mata, hidung, muka , hati dan sepasang paru-paru. Tapi keserupaan dalam manusia tersebut , pada saat yang sama mengakibatkan perbedaan yang mendalam. Tidak ada orang yang menyerupai orang lain, baik watak, tabiat, kepribadian , kemampuan akal maupun potensi.

Ketika seseorang mencintai orang lain kemudian mengawininya, ia berusaha menemukan pada dirinya bagian dari tabiatnya dan berbagai bentuk persamaan lain. Dan ini semua adalah normal.Adapun hal yang tidak normal adalah lari mengingkari perbedaan kepribadian. Yang berbahaya adalah berusaha mengubah kepribadian dia tersebut menjadi seperti kepribadian kita.

Usaha ini kadang berakhir dengan salah seorang dari pasangan suami istri menghancurkan pasangannya dan tidak mengembalikannya kepada bentuknya semula. Menghancurkan memang hal mudah, tapi membangun kembali adalah hal yang sulit. Apalagi jika dibangun dengan paksaan, kekuasaan dan represif.

Cinta yang telah matang adalah yang melepaskan kepribadian pasangannya berkembang dan tumbuh, meskipun berlainan dengan kepribadian kita. Sedangkan orang-orang yang hanya mencintai dirinya sendiri dan menghendaki kekasihnya agar menjadi seperti mereka adalah cermin dari cinta yang kurang matang.Wallahualam bishawab.

(Ahmad Bahjat, “Hakekat Cinta”)